Perusahaan Anggota RGE Mengajari Generasi Muda Berkebun Kelapa Sawit

Industri kelapa sawit merupakan salah satu bidang yang yang ditekuni oleh Royal Golden Eagle (RGE). Karena tahu persis potensinya yang besar, RGE bertekad mengajarkan sistem berkebun kelapa sawit yang benar kepada generasi muda.

Source: Asian Agri

Sebagai korporasi yang berkecimpung dalam pemanfaatan sumber daya, Royal Golden Eagle memiliki berbagai anak perusahaan di bidang berbeda. Mereka tercatat punya unit bisnis yang beroperasi di industri kelapa sawit, minyak dan gas, selulosa spesial, serat viscose, serta pulp dan kerta.

Ragam industri yang digeluti membuat RGE dikenal sebagai korporasi kelas internasional dengan aset 18 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Karyawannya mencapai 60 ribu orang yang tersebar tidak hanya di Indonesia. Grup yang berdiri dengan nama awal Raja Garuda Mas ini punya cabang dan anak perusahaan di Malaysia, Singapura, Tiongkok, Brasil, Kanada, serta Filipina.

Kelapa sawit termasuk sebagai salah satu industri yang lebih dulu diterjuni oleh Royal Golden Eagle. Bidang ini mereka geluti sejak masih bernama Raja Garuda Mas hingga bertransformasi menjadi RGE sekarang.

Salah satu anak perusahaan Royal Golden Eagle yang bergulat di industri kelapa sawit adalah Asian Agri. Dengan kapasitas produksi minyak kelapa sawit hingga satu juta ton per tahun, mereka dikenal sebagai salah satu pemain penting di bidangnya.

Untuk mendapatkan bahan baku, Asian Agri mengelola perkebunan kelapa sawit sendiri. Luasnya tak tanggung-tanggung, mencapai 160 ribu hektare. Namun, dari jumlah itu, sekitar 60 ribu hektare di antaranya dikelola ke para petani plasma.

Akan tetapi, kerja sama yang dijalankan oleh Asian Agri dengan petani tidak hanya terbatas dengan petani plasma. Mereka juga menjalin kemitraan dengan para petani swadaya. Belakangan kegiatan itu makin gencar dilaksanakan. Maklum saja, Asian Agri berkomitmen agar luas lahan yang dikelola bersama petani setara dengan lahan perkebunannya.

Sebagai pemain penting di level global, Asian Agri tahu persis potensi industri kelapa sawit. Bidang ini sesungguhnya memiliki kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia.

Seperti dilaporkan oleh Tempo, Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, menyatakan ekspor komoditas sawit mencapai 12 persen dari ekspor nasional dengan total produksi pada 2016 mencapai 31 juta ton. Jika dirupiahkan, nilainya sangat fantastis. Kontribusi ekspor kelapa sawit bisa mencapai 17,8 miliar dolar AS atau senilai Rp231,4 triliun.

Sumbangan itu makin bertambah jika faktor pembukaan lapangan kerja dimasukkan. Pada 2016, jumlah tenaga kerja yang diserap oleh industri kelapa sawit mencapai 5,6 juta orang. Ini memperlihatkan bahwa kontribusinya memang tidak bisa dipandang remeh.

Oleh sebab itu, pemahaman tentang industri kelapa sawit sangat penting. Sistem perkebunan yang baik merupakan salah satu hal vital dalam bidang tersebut. Namun, belum banyak pihak yang mengetahuinya.

Hal inilah yang akhirnya mendorong Asian Agri untuk mengajari pihak lain dalam berkebun kelapa sawit. Generasi muda dipilih karena mereka bisa menjadi pelakunya pada masa depan.

Untuk melaksanakannya, Asian Agri mendirikan Sekolah Sawit Lestari (SSL). Wadah ini didirikan untuk memberikan pengetahuan kepada siswa seputar pengelolaan kelapa sawit yang berkelanjutan.

“Program Sekolah Sawit Lestari di Sumatra Utara merupakan bagian dari komitmen Asian Agri dalam mendukung pengelolaan kelapa sawit nasional berkelanjutan. Kami memulai dengan mengedukasi masyarakat khususnya para generasi muda untuk mulai mengenal dan memahami bagaimana cara mengelola kelapa sawit yang baik dan berwawasan lingkungan,” ujar Welly Pardede, Head of Sustainability Operation & CSR Asian Agri, seperti dilaporkan Bisnis.com.



TUJUAN SEKOLAH SAWIT LESTARI



Source: Agrofram

Dalam melaksanakan program Sekolah Sawit Lestari, Asian Agri bekerja sama dengan sejumlah sekolah dari tingkat SD, SMP, maupun SMA. Mereka sengaja menjadikannya sebagai muatan lokal di kurikulum beberapa sekolah di Riau, Jambi, dan Sumatra Utara.

Anak perusahaan RGE ini melakukannya karena di tiga provinsi tersebut merupakan area operasi utamanya. Selain itu, di sana memang banyak ditemui perkebunan kelapa sawit. Bahkan, bukan hal aneh kalau orang tua dari para siswa adalah petani kelapa sawit.

Asian Agri mulai menjalankan program Sekolah Sawit Lestari pada November 2016. Mereka membukanya untuk pertama kali di SMA Negeri 11, Desa Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari, Jambi.

Sesudah itu, program tersebut meluas ke Provinsi Riau dan Sumatra Utara. Terakhir kali Asian Agri meresmikannya di SMKN 1 Silangkitang di Kabupaten Labuhan Batu di Sumatera Utara.

Jika ditotal kini ada tiga sekolah yang menjalankannya di Jambi. Satu sekolah di Riau dan satu sekolah lain di Sumatra Utara.

Selain mengenalkan tentang seluk-beluk berkebun kelapa sawit yang benar, Asian Agri merancang Sekolah Sawit Lestari sebagai cara untuk memanfaatkan lahan sekolah supaya bermanfaat bagi sekolah dan warga. Mereka biasa membuka program tersebut di sekolah yang memiliki lahan yang terbengkalai. Nanti lahan itu dikembangkan untuk memberi nilai manfaat dan memperkuat kesadaran akan lingkungan yang lestari bagi siswa, guru dan seluruh warga sekolah.

Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini berharap pihak sekolah bisa bekerja sama dengan warga sekitar dalam pelaksanaan Sekolah Sawit Lestari. Warga diajak untuk memanfaatkan lahan terbengkalai supaya bisa menjadi bermanfaat.

“Kami memanfaatkan lahan pasif untuk menghasilkan produk bernilai ekonomis yang dapat dijual dan hasilnya digunakan bagi kepentingan dan kegiatan siswa dan sekolah. Ini sejalan dengan program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah),” kata Regional Head Asian Agri Wilayah Jambi, Sharul Hasibuan.

Sementara itu, menurut Head CSR & Sustainability Asian Agri, Welly Pardede, melalui Sekolah Sawit Lestari, pihaknya ingin membuka wawasan siswa terhadap industri kelapa sawit. Di dalamnya termasuk pengelolaan perkebunan termasuk dasar-dasar pengetahuan di lapangan, implementasi praktik terbaik dengan panduan dari Asian Agri sebagai perusahaan pendamping.

“Selain itu, program ini merupakan bagian dari CSR perusahaan di bidang pendidikan dan bidang perekonomian. Dengan Program Sekolah Sawit Lestari ini diharapkan ke depannya dapat menopang kemandirian sekolah dari sisi finansial,” ucap Welly di Komoditas.com.

Pihak pemerintah menanggapi inisiatif unit bisnis Royal Golden Eagle tersebut dengan antusias. Pemerintah Kabupaten Labuhan Batu Selatan misalnya. Mereka menilai daerahnya punya potensi besar dalam industri kelapa sawit. Oleh sebab itu, pendidikan terhadap generasi muda terkait pengelolaan perkebunannya dirasa amat tepat.

"Peran dari Sekolah Sawit Lestari kami harapkan dapat memberikan ilmu dan pengetahuan lebih kepada masyarakat khususnya para generasi muda untuk mampu mengelola komoditas ini dengan baik,” kata Wakil Bupati Labuhan Batu Selatan Kholil Jufri Harahap di Bisnis.com.

Asian Agri juga memanfaatkan Sekolah Sawit Lestari untuk menanamkan rasa cinta kepada alam. Mereka mengajari sistem pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Sebagai bagian dari grup Royal Golden Eagle, Asian Agri memang dituntut untuk aktif menjaga keseimbangan iklim. Program Sekolah Sawit Lestari bisa menjadi sarana melakukannya sekaligus mengenalkan sistem perkebunan kelapa sawit yang tepat.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Thanks For Your Comment Here